Sunday, January 30, 2005

Menguak Tabir Tan Malaka

PADANG - Di tanah air, tidak banyak yang tahu siapa Tan Malaka. Wajar, sebab meski telah ditetapkan oleh pemerintah sebagai salah seorang pahlawan nasional pada tahun 1963, rezim Orde Baru berusaha mencoret namanya dari sejarah.
Di berbagai buku bacaan dan pelajaran sejarah, namanya selalu dihilangkan. Sejumlah karyanya yang diterbitkan dalam bentuk buku pun berusaha diberangus, dengan alasan memicu jiwa pemberontak dalam diri pembacanya. Salah satu buku yang berisi buah pikirannya yang sempat dilarang beredar dalah Madilog.
Di kalangan mahasiswa berbagai perguruan tinggi, selama bertahun-tahun, karena kesalahan sejarah, Tan Malaka bahkan dikenal sebagai tokoh beraliran “sesat” yang tak layak disimak keberadaan dan sumbangsihnya pada tanah air. Bahkan, sangat sulit menemukan nama Tan Malaka pada jalan-jalan yang ada di seluruh wilayah di tanah air, seperti nama-nama tokoh pejuang nasional yang diabadikan sebagai nama jalan atau gedung hampir di seluruh wilayah di Indonesia.
Padahal, menurut ahli sejarah Belanda Harry Poeze, jika ditinjau dari perspektif kekinian, pemikiran Tan Malaka yang radikal itu sebenarnya bernuansa sosialisme, sesuai dengan pola kehidupan masyarakat Indonesia pada masa kini. Namun memang bertolak belakang dengan arus pemikiran kapitalisme yang meraja di Indonesia sebelum kemerdekaan.
Yang lebih mengejutkan, berbeda dengan keberadaannya di Indonesia yang menjadi kontroversi, menurut Harry, Tan Malaka adalah seorang pemikir radikal nasionalis sosialis. Dimana pemikirannya telah membawa pengaruh yang sangat besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Gagasan pembentukan Indonesia sebagai negara Republik, sesungguhnya adalah gagasan Tan Malaka, yang pada saat itu dipandang layak menerima gelar sebagai Bapak Republik oleh M.Yamin. Namun sebutan itu membuat risih dwi tunggal Soekarno-Hatta. Dan akhirnya gelar tersebut dipakai Soekarno untuk dirinya sendiri. Kenyataan ini menjadi ironis. Padahal Tan Malaka pula yang merupakan pencetus perlawanan terhadap kolonialisme, berbeda dengan apa yang dipahami oleh pemimpin Indonesia yang ada pada masa itu, yang lebih memilih jalan damai dan mengikuti apa yang dimaui oleh pemerintah penjajah, dengan harapan diberikan kemerdekaan.

Meluruskan Sejarah
Meski di pentas nasional Tan Malaka adalah adalah sebuah heroisme yang dipandang gagal, ia adalah sosok yang sangat dikagumi di daerah kelahirannya, Sumatra Barat. Pejuang kelahiran Pandan Gadang, Suliki, Kabupaten 50 Kota, Sumbar ini, dianggap sebagai tokoh yang telah memberi inspirasi dan penyeimbang bagi pemikiran para pemimpin dan tokoh nasional pada masanya. Ia dianggap mampu mempengaruhi sejarah dengan pemikirannya yang radikal dan cenderung lurus dan revolusioner.
Untuk meluruskan sejarah dan meluruskan reputasi Tan Malaka yang selama ini berada dalam ruang yang kontroversial, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Tan Malaka, bekerjasama dengan Yayasan Perduli Perjuangan (YPP) PDRI Sumbar, pada Senin (3/1) lalu, mengadakan seminar bertajuk “Ibrahim Datuk Tan Malaka, Putra Bangsa dari Minangkabau yang Terlupakan. Menguak Tabir Sejarah dan Sisi Kepahlawanannya”. Dalam acara ini, hadir beberapa tokoh saksi mata perjuangan dan sejarawan di Sumatra Barat, bahkan Indonesia.
Dalam seminar tersebut, sejarawan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Asvi Warman Adam, mengungkapkan sekaligus memprotes dihilangkannya nama Tan Malaka dalam buku-buku pelajaran sekolah. Di dalam buku “Album Pahlawan Bangsa”, tidak terdapat nama Tan Malaka, padahal buku ini diterbitkan tahun 1999, serta diberi kata sambutan oleh Direktur Urusan Kepahlawanan dan Perintis Kemerdekaan, Departemen Sosial dan Direktur Sarana Pendidikan Dirjen Pendidikan Dasar dan Menegah Depdikbud. Dengan kata lain, menurut Asvi, pencekalan ini memang setahu, bahkan mungkin, atas anjuran kedua departemen tersebut. Namun, sayangnya, Menteri Sosial, Bachtiar Chamsyah, tidak dapat hadir dalam acara ini.
Pada masanya, menurut Asvi, Tan Malaka adalah sosok misterius yang cukup populer. Ia selalu konsisten dengan apa yang ditulis dan dipikirkannya. Menolak berunding dengan pemerintahan imperialisme Belanda, hanya dengan satu alasan: Indonesia adalah milik bangsa Indonesia, kenapa harus berunding meminta kemerdekaan pada bangsa lain? Meski untuk itu, seumur hidupnya ia harus berkelana hidup dari penjara ke penjara, seperti tajuk buku yang ditulisnya.
Pemikiran inilah yang akhirnya menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Bukan saja pihak penjajah yang akhirnya memusuhi Tan Malaka, tapi juga tokoh-tokoh pejuang seperjuangan dengannya. Beberapa orang diantaranya, bahkan berusaha menikamnya dari belakang.
Sikap dan pemikiran radikal inilah, yang akhirnya membuat banyak pihak di masanya, merasa terusik dan berkeinginan menghapus keberadaan Tan Malaka dari pentas perjuangan nasional, karena dianggap sebagai nasionalis beraliran kiri dan pemikir revolusioner yang dapat membahayakan kesatuan dan kelangsungan perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajahan. Alhasil, ia harus terbuang dari tanah air karena dianggap pecundang karena pemikirannya yang dipandang melawan arus.
(SH/sri rahayu ningsih)

Peluncuran Buku Kapital Karya Karl Mark

Peluncuran dan Diskusi Buku Kapital karya Karl Mark (Edisi Bahasa Indonesia)
Waktu: Rabu, 2 Februari 2005, Pukul 14:00 WIB
Tempat: Perpustakaan Nasional, Jl. Salemba Raya, Jakarta Pusat
Pembicara: ABDURRAHMAN WAHID (GUS DUR), JUSUF ISAK, HILMAR FARID Moderator: STANLEY PRASETYA
Jakarta, Indonesia Rabu, 2 Februari 2005 | 14:00 WIB

UNIVERSITAS PROF. DR. MOESTOPO (BERAGAMA) - JAKARTA

Status: Swasta
Alamat: (1) Kampus I : Jl. Hang Lekir I / 8, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan 12120
Telepon : (021) 7220269, 7395333, 7252682, 7252685, 7261433
Faks : (021) 7252682, 7252685 (2) Kampus II : Jl. R.C. Veteran 6, Kelurahan Pesanggrahan Bintaro, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Telepon : (021) 9214363, 7361785 (3) Kampus III : Jl. Raya Bintaro Permai 3, Kodam Pesanggrahan Bintaro, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan
Telepon : (021) 73885251-54, Faks : (021) 73885253
E-mail: updm@cbn.net.id
Rektor: Drs. Suherman Djaenudin, MM

Sejarah Singkat
Tanggal Berdiri: 1952
Pendiri: Prof. Dr. Moestopo (Yayasan Universitas Prof. Dr. Moestopo)
Nama universitas ini mengundang tanya: kenapa “beragama”? Ceritanya, "Prof. Dr" adalah gelar akademis pendirinya, Moestopo. Ia adalah juga seorang perwira berpangkat kolonel. Pada awal 1950-an, Moestopo pejabat penting di RS Angkatan Darat (sekarang RSPAD): ia adalah kepala bagian bedah rahang. Pada sore hari, ia membuka praktik di rumahnya. Melihat masih terbatasnya tukang gigi di Indonesia, baik kualitas maupun jumlahnya, Moestopo mendirikan Kursus Kesehatan Gigi Dr. R. Moestopo, tahun 1952. Pada 1957, Moestopo mendirikan lagi Kursus Tugang Gigi Intelek. Lebih maju daripada kursus sebelumnya, KTGI ini mengharuskan muridnya minimal lulusan SMP. Setahun berikutnya ia mendirikan Dental College.
Lembaga pendidikan ini kemudian dikembangkan dengan membuat dua jurusan: Sekolah Dentis dan Sekolah Tukang Gigi Menengah. Status universitas diperoleh pada 1962, setelah sebelumnya sempat menjadi Akademi (1959), Perguruan Tinggi Swasta Dental College (1960), dan Fakultas Kedokteran Gigi (1961). Ketika dijadikan universitas, lembaga ini menambah dua fakultas: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, dan Fakultas Publisistik. Bersamaan dengan itu ditutup pula Dental College PDM. Pada 1966, ketiak kondisi politik negara sedang tak menentu, dengan tegas lembaga pendidikan ini menambahkan kata ‘’Beragama’’. Dengan predikat ini, keunikan nama lembaga pendidikan ini semakin populer. Fakultas Kedokteran Gigi bukan saja embrio Universitas PDM, tapi juga menjadi andalan.

FKG didirikan pada 1961 oleh Almarhum May.Jend. (Purn) Prof dr. Moestopo, pejuang kemerdekaan, pelaku oeristiwa bersejarah 10 November 1945 dan penerima Bintang Mahaputra Utama republik Indoneisia, Bapak Kedokteran Gigi Indonesia

Profil
Jenjang pendidikan: S1
Jumlah mahasiswa, 2002: 4.557
Jumlah lulusan, 2002: S1: 614, S2: 35
Jumlah pendaftar, 2002/2003: 2.454
Jumlah mahasiswa diterima, 2002/2003: 1.420
Jumlah alumni: 7.729
Ikatan alumni: Ikatan Alumni Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)
Jumlah dosen: 373 (S1: 140, S2: 154, Sp: 7, S3: 49, Profesor: 23)
Luas kampus: Kampus I: 5.300 m2, Kampus II: 7.950 m2, Kampus III: 10.350 m2

Fasilitas Kampus
Ruang kuliah: 43 ruangan
Perpustakaan: FGK (luas ruangan 200 m2, koleksi 11.362 eksemplar), FISIP (luas ruangan 90 m2, koleksi 2.705 eksemplar), FE (luas ruangan 90 m2, koleksi 2.191 eksemplar), FIKOM (luas ruangan 150 m2, koleksi 11.872 eksemplar)
Laboratorium: FKG (Dental: Prostodontia, Orthodontik, Konservasi, Ilmu dan Teknologi material Kedokteran Gigi, Radiologi Dental, Biologi Oral; Non Dental: Fisika, Biologi, Kimia, Anatomi, Histologi, Biokimia, Fisiologi, Mikrobiologi, Parasitologi, Farmakologi dan Terapi, Pathologi Anatomi, Pathologi Klinik; Klinik: Ortodontik, Konservasi Gigi, Oral Surgery, Oral Diasnostik, Prosthodontia, Paedodontia, Radiologi, Dental Publik Health, Periodontologi), FISIP (komputer, bahasa, administrasi/daerah binaan), FE (statistik, komputer, akuntansi, matematika), FIKOM (komputer dan desain grafis, fotografi, radio, bahasa, televisi, kamar gelap, audio visual)
Lembaga penelitian: Lembaga Penelitian Universitas, Lembaga Penelitian FKG, Lembaga Penelitian FISIP, Lembaga Penelitian FE, Lembaga Penelitian FIKOM, Lembaga Pengabdian kepa Masyarakat
Kegiatan mahasiswa: Agrawitaka, PSMI, PMK, KMK, Media Publica, Pusgiwa, Teater FIKOM, sepak bola, bola voli, bola basket, KOSMIK
Fasilitas lain: -
Pendaftaran Mahasiswa Baru
Pusat informasi pendaftaran: Kampus I, Jl. Hang Lekir I / 8, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Telepon : (021) 7220269, 7395333, 7252682
Waktu pendaftaran: -
Syarat:
(1) Mahasiswa Baru: Mengisi formulir pendaftaran, Menyerahkan fotokopi ijazah/STTB dan NEM yang telah dilegalisir, 3 lembar, Fotokopi KTP atau surat pindah, 3 lembar, Fotokopi Akte Kelahiran/Surat Kenal lahir, 3 lembar, Pasfoto berwarna ukuran 2x3 cm, dan 3x4 cm, masing-masing 2 lembar, Pendaftaran dapat diwakilkan dan dikirim melalui faks, Surat pernyataan dari orangtua/wali di atas materai Rp 6.000 yang menyatakan kesanggupan untuk menanggung semua biaya perkuliahan selama menjadi mahasiswa bagi calon mahasiswa yang dibiayai orangtua/wali, Surat izin dari instansi yang bersangkutan bila calon mahasiswa sudah bekerja, Mengisi formulir pernyataan bersedia melaksanakan tes kesehatan

(2) Mahasiswa Pindahan: Syarat diatas ditambah: Surat keterangan pindah dari PTN/PTS asal, Fotokopi ijazah sarjana muda/diploma II yang dilegalisir, Transkrip nilai asli, Surat permohonan yang bersangkutan untuk melanjutkan/pindah kuliah

Harga formulir pendaftaran: FKG Rp 150.000, FISIP Rp 100.000, FE Rp 100.000, FIKOM Rp 125.000, Pascasarjana Rp 100.000, Sudah termasuk biaya ujian seleksi, Biaya pendaftaran dikirim ke PT Bank Negara Indonesia 1946 Kantor Cabang Ratu Plaza, Biaya Tes Kesehatan Rp 40.000 (dibayar tunai), Calon yang mengundurkan diri dikenakan biaya administrasi Rp 500.000

BIAYA PENDIDIKAN
Seperti pada umumnya, biaya kuliah setiap tahun meningkat.

Jejak-Jejak Pembunuh Munir

Mengungkap identitas pembunuh Munir seharusnya tidak sulit. Metode perbuatan pidana ini telah terlacak oleh para pakar forensik Belanda dan polisi Indonesia tinggal menelusuri siapa saja yang berpeluang melakukan kejahatan itu dengan meminta keterangan para saksi. Berdasarkan kumpulan informasi tentang hari-hari terakhir perjalanan final tokoh pembela hak asasi manusia ini, yang tentunya diverifikasi, dengan segera identitas para tersangka akan bermunculan. Lantas, pengecekan atas latar belakang para tersangka akan segera menyeruakkan dugaan motivasi di belakang perbuatan durjana ini.

Cara yang sama pernah dilakukan dengan gemilang oleh aparat negara yang berhasil mengungkap identitas para pembunuh Theys Hiyo Eluay, aktivis Papua yang dihabisi setelah menghadiri acara Hari Pahlawan di markas satuan tugas Tribuana, tiga tahun silam. Tak ada alasan mengapa sukses serupa tak dapat diulang. Apalagi medan penyelidikan pun jauh lebih sempit dan kondisinya lebih terang-benderang.

Dengan kerangka berpikir seperti ini, sungguh aneh jika polisi tak dapat segera menangkap dan mengidentifikasi pembunuh Munir. Bahkan sepatutnya aparat hukum telah melakukan tindakan seperlunya untuk memastikan para calon tersangka tak sempat kabur atau melakukan tindakan lain untuk menghilangkan jejak dan bukti-bukti hukum perbuatan kriminal mereka. Pembunuhan seorang tokoh seperti Munir pasti melibatkan sebuah komplotan jahat yang punya jejaring ke kalangan yang berkuasa, baik karena posisi maupun kekuatan sumber dayanya. Jejaring ini pasti akan, bahkan mungkin telah, melakukan segala upaya untuk menghapus jejak berdarah mereka sebersih mungkin.

Upaya jahat itu harus dilawan. Pembunuhan Munir bukan peristiwa kriminal biasa, melainkan kejahatan terhadap peradaban. Ini adalah bagian dari gerakan teror yang sistematis untuk memadamkan nyali para aktivis yang peduli pada kemaslahatan masyarakatnya. Atau, bila mengutip istilah yang dikembangkan Robert Putnam, upaya keji ini adalah gerakan untuk mengerdilkan modal sosial bangsa Indonesia.

Hanya kalangan yang bermimpi memegang kekuasaan otoriter yang memiliki motivasi untuk menafikan modal sosial sebuah bangsa. Kelompok ini oleh Thomas Hobbes disebut sebagai The Leviathan, sang monster yang melegitimasi kekuasaannya dengan menjanjikan ketertiban dan kesejahteraan ekonomi dan menyatakan bahwa hak-hak rakyat yang lain hanyalah kemewahan yang belum layak dijangkau orang ramai. Pengalaman banyak negara di dunia menunjukkan teori bapak demokrasi Inggris yang lahir di abad ke-18 ini ternyata belum juga luntur termakan zaman.

Tapi tentang apa yang lekang dan tidak di sebuah zaman sebenarnya le-bih ditentukan oleh anak-anak zaman itu sendiri. Bangsa Indonesia kini berada di simpang keputusan yang penting. Akankah pembunuhan politik dibiarkan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari perjalanan bangsa ini, atau kita semua menolaknya dengan tegas dan mencampakkannya ke keranjang sampah sejarah dan menutup pintu kekelaman peradaban itu rapat-rapat?

Sebagai kepala negara, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono wajib menunjukkan sikapnya yang tegas tentang pilihan penting ini. Metode pembinasaan lawan dengan apa yang di kalangan militer disebut dengan istilah "pembunuhan senyap" mesti dimusnahkan dari gudang-gudang perbendaharaan seluruh aparat negeri. Undang-Undang Dasar 1945 telah secara tegas menjamin hak hidup setiap warga negara Indonesia dan tak ada seorang pun di negeri ini, tak peduli apa pun jabatannya, punya hak untuk merampas hak konstitusional tersebut.

Itu sebabnya, siapa pun yang berada di belakang aksi "pembunuhan senyap" terhadap Munir perlu diungkap dan dihukum. Ini adalah bagian dari upaya bangsa untuk membersihkan dirinya dari paradigma lama yang masih memberi peluang pembenaran terhadap tindakan-tindakan bengis seperti pelenyapan warga yang dianggap bermasalah. Tentu tak hanya berhenti pada para pelaku di lapangan, tapi lebih penting lagi adalah membawa aktor intelektualnya ke meja pengadilan.

Hal ini hanya dapat dilakukan jika polisi bertindak cepat untuk memastikan mereka yang diduga terlibat tak mempunyai peluang untuk melarikan diri. Presiden dan Panglima TNI juga diimbau agar secara tegas menunjukkan komitmen publik dalam mendukung upaya pengusutan pembunuhan Munir. Harus ada pesan yang kuat bahwa bangsa ini punya kesungguhan tinggi untuk melawan kegiatan teror seperti yang dilakukan terhadap pahlawan hak asasi manusia itu. Tragedi Munir tak boleh terulang lagi di negeri ini.

(Dikutip dari majalah TEMPO, No. 40/XXXIII/29 November - 05 Desember 2004)

Profil Pendiri UPDM (B)

Nama :
MOESTOPO

Lahir :
Ngadiluwih, Kediri, Jawa Timur, 13 Juni 1913

Agama :
Islam

Pendidikan :
- HIS (1925)
- MULO, Hollandsch Inlandsche Kweek School
- STOVIT, Surabaya
- Pendidikan Militer Peta, Bogor (1944)
- Pendidikan Orthodontie di Surabaya dan UGM, Yogyakarta
- Pendidikan Oral Surgeon di FK UI, Jakarta, AS, dan Jepang.


Karir :
- Asisten Orthodontie dan Conserveren de Tandheeldunde (1937-1941)
- Wakil Direktur STOVIT (1941-1942)
- Asisten Profesor dari Shikadaigaku Ikabu (Sekolah Tinggi Kedokteran Gigi) (1942)
- Chudancho Peta, Sidoarjo (1944)
- Komandan BKR, Surabaya (1945)
- Komandan Resimen Kratibo, Subang (1947)
- Kepala Staf Tugas Khusus MBKD dan Penjabat Komandan Kesehatan AD (1949)
- Wakil Panglima MBKD (1949)
- Kepala Bagian Kedokteran Gigi MBAD (1950)
- Kepala Bagian Bedah Rahang RSPAD, Jakarta (1950) Pj. Rektor Unpad
- Wakil Ketua Front Nasional
- Anggota Staf Ahli Menteri P & K (1953)
- Anggota MPRS (1960-1968)
- Guru Besar Universitas Indonesia, Universitas Padjadjaran, Universitas Prof. Dr. Moestopo, dan Universitas Pasundan (sejak 1961) Rektor dan dosen Universitas Prof. Dr. Moestopo
- Dosen pada beberapa Universitas dan Akademi di Jakarta dan Bandung.

Kegiatan Lain :
- Pemrakarsa pendirian PDGI (Persatuan Dokter Gigi Indonesia)
- Pendiri Union of Oral Surgeon of South-East Pasific Area (1974)


Karya :
- antara lain: Frame Prosthesis, 1969
- Oral Surgery, 1981

Alamat Rumah :
Jalan Juanda, Bandung

Alamat Universitas :
Universitas Prof. Dr. Moestopo Jalan Hang Lekir I/8 Blok H, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan Telp:770269


Banyak orang bertanya-tanya, mengapa perguruan tinggi yang didirikannya di Jakarta itu, diakhiri kata 'beragama'. Prof. Dr. Moestopo lantas menjawab: ''sebagai pelaksanaan Pancasila''. Ia melihat, ada universitas yang jelas-jelas mencantumkan nama agama misalnya, Universitas Katolik, Universitas Kristen, Universitas Islam. ''Tapi, perguruan tinggi swasta untuk semua agama belum ada,'' kata pendiri Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) ini.

Purnawirawan mayor jenderal kelahiran Desa Ngadiluwih, Kediri, Jawa Timur, memiliki sederet gelar. Lengkapnya: Profesor, Doktor, Os (Oral surgeon), Orth (Orthodontist), Opdent (Operatives dentes), Pedo/De (pedodentic/Dentalhealth education), Prosth (Prosthodontia), Biol (Biologist) dan Panc. Jangan kaget, gelar yang terakhir itu -- Panc -- berarti: Pancasilais. Ia mengaku sebagai ''Bapak Pengamal Pancasila''.

Sederet gelar itu belum cukup. Di belakang namanya masih ada embel-embel: Bapak Perminyakan, Bapak Publisistik, Bapak Reklasering. Itu sebabnya, ayah sembilan anak yang masih tegap dalam usianya yang lebih dari 80 tahun itu dinilai nyentrik oleh para mahasiswanya.

Moestopo kecil anak keenam dari delapan bersaudara putra Raden Koesoemowinoto ini tidak menjalani pendidikan dengan tenang. Kelas V HIS, ayahnya meninggal. Lalu ia tinggal dengan uanya. Sepulang sekolah ia menggembalakan kambing.

Sampai di STOVIT (Sekolah Tinggi Kedokteran Gigi, di zaman Belanda) tingkat II, ia dibiayai saudara-saudaranya. Tetapi kemudian ia ingin mandiri, dan tidak malu berjualan beras untuk keperluan sehari-hari sambil tetap kuliah. Tetapi sial, kuliah itu toh terputus, karena pecah Revolusi Kemerdekaan. Dan Moestopo yang di zaman Jepang menjadi anggota Peta, terlibat dalam perjuangan itu. Pasukannya di zaman Revolusi dijuluki ''Pasukan setan'', karena anak buahnya terdiri dari pencopet, pelacur, dan residivis.

Pernah menduduki jabatan Menteri Pertahanan ad interim, Nasional, Kepala Departemen Kesehatan TNI-AD, Moestopo sampai sekarang tetap mengajar di Unpad, Bandung, dan di perguruan tinggi yang didirikannya, Universitas Prof. Dr. Moestopo. Ia juga pernah mengajar sebagai guru besar tamu di Osaka Dental University, Jepang.

''Sampai akhir hayat, saya akan mengabdi di bidang pendidikan, pengamalan Pancasila, dan mengusahakan perdamaian dunia,'' katanya melambung. Itu sebabnya rumahnya di Dago, Bandung, dijadikan ''Markas Besar Perdamaian Dunia'' (World Peace Movement Headquarter).

Sumber : PDAT